Pekanbaru, Raimas86.net-
Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru kembali menjadi perhatian masyarakat di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas udara, kesehatan warga, serta kelancaran aktivitas sehari-hari, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Berdasarkan informasi Pemerintah Kota Pekanbaru BPBD Kota Pekanbaru menyatakan tidak ditemukan titik api baru di wilayah kota saat itu. Meski demikian, kabut asap masih berdampak pada kualitas udara. Pemerintah setempat menyebut asap yang menyelimuti Pekanbaru berasal dari kiriman daerah lain.
Kondisi kualitas udara tersebut juga menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data pada laman resmi Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menunjukkan konsentrasi PM2.5 sebesar 63,3 mikrogram per meter kubik pada 13 Oktober 2026 pukul 02.00 WIB, dengan kategori kualitas udara tidak sehat. Angka tersebut merupakan hasil pemantauan pada waktu tersebut dan dapat berubah sesuai kondisi atmosfer.
Dari pantauan dilapangan kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Pekanbaru meskipun ancaman karhutla mulai mereda setelah hujan mengguyur beberapa daerah. Laporan itu juga menyebut kualitas udara Pekanbaru sempat memburuk hingga mendorong pemerintah kota menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik pada 14-15 Oktober 2026.
Kabut asap yang mengandung partikel halus seperti PM2.5 perlu diwaspadai karena partikel berukuran sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan polusi udara dapat menimbulkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk kondisi penderita asma maupun penyakit pernapasan lainnya. Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi langkah penting untuk menentukan tindakan perlindungan masyarakat.
BMKG mengimbau masyarakat Riau agar meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. meminta warga menggunakan masker, mengikuti perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara, serta memperhatikan arahan BPBD setempat. Imbauan tersebut relevan sebagai langkah antisipasi ketika kabut asap kembali meningkat.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan membatasi kegiatan berat saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Warga juga dapat menutup jendela ketika asap pekat masuk ke rumah, menjaga kebersihan ruangan, dan menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus jika harus keluar. Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus.
Di sisi lain, upaya pencegahan karhutla harus tetap menjadi prioritas meskipun titik api di dalam Kota Pekanbaru sempat dilaporkan nihil. BPBD Kota Pekanbaru menyebut pihaknya tetap melakukan patroli di kawasan rawan kebakaran. Dalam laporan yang sama, BPBD mencatat telah menangani kebakaran lahan seluas 106,8 hektare dengan total 196 titik kejadian yang tersebar di 14 kecamatan selama Januari hingga September 2026.
Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat kerja sama untuk mencegah munculnya kebakaran baru. Warga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran lahan. Penanganan sejak dini, pemantauan titik panas, dan koordinasi antardaerah menjadi penting karena asap dapat terbawa angin melintasi wilayah administratif.
Kabut asap yang kembali menjadi perhatian di Pekanbaru menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran, tetapi juga oleh masyarakat di daerah yang terdampak asap kiriman. Pemantauan kualitas udara secara berkala, keterbukaan informasi, perlindungan kelompok rentan, dan pencegahan kebakaran harus berjalan beriringan agar kesehatan masyarakat tetap terlindungi dan risiko kabut asap dapat ditekan.
(Maulana Sari)




