Mimika, Raimas86.net-
Gerakan literasi di Indonesia, termasuk di Papua dan Kabupaten Mimika, dinilai perlu terus dibudayakan dan diperkuat agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Hal tersebut disampaikan Tobi Bagubau, seorang pegiat literasi di Kabupaten Mimika sekaligus pendiri Komunitas Lapak Baca Jalanan Kota Timika, melalui tulisannya yang berjudul “Membudayakan Ulang Gerakan Literasi.”
Dalam tulisannya, Tobi menyoroti anggapan yang berkembang bahwa gerakan literasi saat ini lebih banyak melahirkan pembicara, duta, relawan, dan pegiat dibandingkan pembaca buku. Menurutnya, pandangan tersebut perlu dilihat secara lebih utuh karena aktivitas seminar, pelatihan, dan diskusi pada dasarnya dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi.
Ia menilai membaca dan berbicara mengenai pentingnya membaca tidak semestinya ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Menurutnya, budaya membaca membutuhkan lingkungan sosial yang mendukung, mulai dari guru, perpustakaan, komunitas, penerbit, hingga ruang percakapan publik.
“Minat baca tidak mendadak jatuh dari langit, tetapi disemai melalui ajakan, kebiasaan sosial, cerita-cerita, dan infrastruktur kultural,” demikian gagasan yang disampaikan Tobi dalam tulisannya.
Tobi juga mengingatkan bahwa aktivitas membaca merupakan kegiatan yang cenderung bersifat personal dan tidak selalu terlihat di ruang publik. Karena itu, menurutnya, budaya membaca tidak tepat diukur hanya berdasarkan kegiatan yang tampak seperti seminar, diskusi, maupun dokumentasi kegiatan literasi.
Ia menilai terdapat bias ketika minimnya dokumentasi aktivitas membaca kemudian dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat tidak membaca. Padahal, proses membaca berlangsung secara lebih tenang dan tidak selalu mendapatkan ruang publikasi.
Pegiat Literasi Dinilai Punya Peran Penting
Dalam konteks daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap buku dan bahan bacaan, keberadaan komunitas serta pegiat literasi dinilai memiliki peran penting sebagai penghubung antara masyarakat dan sumber pengetahuan.
Tobi berpandangan bahwa kehadiran duta, relawan, maupun pegiat literasi tidak seharusnya semata-mata dipandang sebagai simbol atau formalitas. Mereka dapat menjadi bagian dari proses memperkenalkan buku dan kebiasaan membaca kepada masyarakat yang sebelumnya belum memiliki akses maupun kedekatan dengan dunia literasi.
Menurutnya, budaya membaca membutuhkan pihak yang memulai, baik melalui kampanye, diskusi, kelas komunitas, maupun kegiatan membaca bersama.
Ia juga mempertanyakan bagaimana budaya membaca dapat berkembang apabila tidak ada pihak yang mengajak masyarakat untuk mulai mengenal buku dan membangun kebiasaan membaca.
Kritik Tetap Diperlukan
Meski membela pentingnya gerakan literasi, Tobi tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dalamnya. Ia mengakui bahwa kegiatan literasi dapat terjebak pada formalitas, seremonial, bahkan kepentingan administratif.
Karena itu, kritik terhadap kegiatan literasi tetap diperlukan. Namun, menurutnya, persoalan tersebut tidak semestinya dijadikan alasan untuk menganggap seluruh gerakan literasi sebagai sesuatu yang keliru.
Ia mendorong agar kritik terhadap gerakan literasi diarahkan pada upaya memperbaiki hubungan antara kegiatan dan hasil nyata, terutama dengan memastikan bahwa kegiatan diskusi, seminar, dan pelatihan benar-benar berujung pada akses terhadap buku serta meningkatnya kebiasaan membaca.
Tobi juga menyoroti kegiatan pelatihan menulis yang sering dianggap menghasilkan kemampuan secara instan. Menurutnya, pelatihan semacam itu dapat menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk mulai mengenal dunia kepenulisan, selama tidak dianggap sebagai hasil akhir.
Literasi sebagai Kerja Sosial
Dalam pandangannya, membaca memang merupakan aktivitas personal, tetapi membangun budaya membaca merupakan kerja sosial yang membutuhkan lingkungan pendukung.
Ia menilai kualitas seseorang dalam membaca dan menganalisis juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, akses terhadap informasi, pengalaman pendidikan, serta kesempatan untuk berdiskusi dengan orang lain.
Karena itu, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang membaca teks, tetapi juga dengan terbentuknya ruang sosial yang memungkinkan pengetahuan berkembang dan dipertukarkan.
“Tanpa bahasa, diskursus, dan percakapan publik, aktivitas membaca akan terisolasi dan tercerai-berai,” menjadi salah satu gagasan utama yang ditekankan Tobi dalam tulisannya.
Menurutnya, transformasi budaya membaca tidak dapat berlangsung secara instan. Diperlukan proses bertahap, termasuk membangun komunitas, menyediakan bahan bacaan, menciptakan ruang diskusi, serta mempertemukan masyarakat dengan buku.
Gerakan Literasi di Mimika Perlu Terus Diperkuat
Sebagai pegiat literasi di Kabupaten Mimika dan pendiri Komunitas Lapak Baca Jalanan Kota Timika, Tobi menilai gerakan literasi di daerah perlu terus dikembangkan dengan menghubungkan wacana dengan praktik.
Ia mendorong agar kegiatan literasi tidak hanya berorientasi pada kemeriahan acara, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan akses bacaan dan kebiasaan membaca masyarakat.
Menurutnya, tantangan gerakan literasi bukan sekadar memperbanyak kegiatan, melainkan memastikan kegiatan tersebut memiliki hubungan nyata dengan buku, pembaca, dan perubahan kebiasaan masyarakat.
“Yang dibutuhkan bukan sinisme total, melainkan navigasi ulang, yaitu mempererat kaitan antara wacana dan praktik, antara kemeriahan acara dan kemudahan akses, serta antara diskusi dan buku yang benar-benar dipegang lalu dibaca,” tulisnya.
Tobi menegaskan bahwa gerakan literasi di Indonesia maupun Papua masih memiliki berbagai kekurangan. Namun, kekurangan tersebut menurutnya perlu dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki gerakan, bukan alasan untuk menghentikannya.
Baginya, mempertahankan percakapan mengenai membaca sama pentingnya dengan mendorong masyarakat untuk membaca. Sebab, ketika ruang dialog mengenai literasi semakin hilang, masyarakat berisiko kehilangan kesadaran kolektif mengenai pentingnya membaca bagi masa depan generasi.
(A. Naraha Simbiak)



