![]() |
Rembuk Stunting Kota Agung 2026 Perkuat Kolaborasi Cegah Kasus Baru |
Raimas86.net
Lampung Utara – Kegiatan tersebut menjadi forum koordinasi untuk menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kualitas kesehatan ibu dan anak sekaligus mempertahankan status Desa Kota Agung yang saat ini tercatat bebas stunting.
Pemerintah Desa Kota Agung, Kecamatan Sungkai Selatan, terus memperkuat langkah pencegahan stunting melalui pelaksanaan Rembuk Stunting Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Kantor Desa Kota Agung, pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 09.30 WIB.
Rembuk Stunting dihadiri oleh Camat Sungkai Selatan, narasumber dari Ahli Gizi Puskesmas Rawat Inap Ketapang, PLKB Kecamatan Sungkai Selatan, serta unsur BPD, LPM, Bidan Desa, kader Posyandu, perangkat desa, dan tokoh masyarakat.
Dalam forum tersebut, peserta membahas berbagai strategi pencegahan stunting, mulai dari pemenuhan gizi keluarga, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), peningkatan kesadaran orang tua dalam pengasuhan anak, hingga pentingnya pelayanan kesehatan yang berkesinambungan.
Berdasarkan data yang dipaparkan, angka stunting di Desa Kota Agung pada tahun 2026 berada di level 0%.
Capaian tersebut dinilai sebagai hasil kerja sama antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu hamil dan balita.
Kepala Desa Kota Agung, Hendri Kalnopi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan desa bebas stunting.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Bidan Desa, kader Posyandu, serta seluruh masyarakat yang telah bersama-sama mendukung berbagai program kesehatan. Keberhasilan mempertahankan angka stunting di posisi 0%, merupakan hasil kebersamaan dan kepedulian semua pihak, bukan semata-mata keberhasilan pemerintah desa," ujar Hendri.
Ia menjelaskan, komitmen pemerintah desa tidak berhenti pada capaian tersebut. Melalui alokasi Dana Desa, Pemdes Kota Agung tetap menganggarkan program pemberian makanan tambahan bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan pencegahan stunting.
Program itu juga melengkapi bantuan yang telah diberikan oleh Puskesmas Rawat Inap Ketapang serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran.
Menurut Hendri, investasi di bidang kesehatan dan gizi merupakan bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas sejak usia dini.
Selain pemenuhan kebutuhan gizi, pemerintah desa juga terus mengajak masyarakat untuk rutin memanfaatkan layanan Posyandu, menerapkan pola asuh yang baik, serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat guna mencegah penyakit yang dapat menghambat tumbuh kembang anak.
Dalam sesi pemaparan materi, narasumber menjelaskan bahwa pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Upaya tersebut meliputi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan MPASI bergizi tinggi, imunisasi lengkap, pemantauan pertumbuhan balita secara rutin di Posyandu, serta menjaga sanitasi lingkungan agar anak terhindar dari infeksi.
Menutup kegiatan, Hendri Kalnopi berharap seluruh elemen masyarakat tetap menjaga semangat kebersamaan dalam mempertahankan prestasi tersebut.
"Capaian nol persen stunting ini merupakan amanah yang harus kita pertahankan. Pemerintah Desa Kota Agung akan terus memperkuat sinergi dengan tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan seluruh masyarakat agar upaya pencegahan stunting berjalan secara berkelanjutan. Kami berharap Desa Kota Agung dapat terus melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas, sekaligus menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam mewujudkan Indonesia bebas stunting," tutupnya.





