Tegal, Raimas86.net
Kebakaran kembali menghantui Kabupaten Tegal. Dalam satu hari, dua insiden kebakaran terjadi di lokasi berbeda.
Ironisnya, kedua peristiwa tersebut sama-sama diduga berkaitan dengan aktivitas pembakaran yang tidak terpantau hingga memicu kobaran api.
Insiden pertama terjadi pada Kamis dini hari di rumah milik Tanirah, warga Desa Harjosari Lor RT 27 RW 06, Kecamatan Adiwerna. Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 03.40 WIB, ketika sebagian besar warga masih terlelap.
Kepala Satpol PP Kabupaten Tegal Agus Sukoco melalui Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Nawawi mengatakan, laporan kebakaran diterima Pos Damkar Slawi sekitar pukul 03.40 WIB. Informasi disampaikan Agil, anggota Damkar 3, melalui sambungan telepon.
Mendapat laporan tersebut, petugas langsung bergerak menuju lokasi. Sekitar pukul 03.55 WIB, satu unit mobil pemadam dari Pos Slawi tiba dan segera melakukan upaya pemadaman.
"Petugas langsung melakukan pemadaman dan pengendalian kebakaran. Api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 05.15 WIB," ujar Nawawi.
Berdasarkan keterangan saksi, api diduga pertama kali muncul dari bagian belakang rumah, tepatnya di area dapur. Dugaan sementara, kebakaran dipicu sisa pembakaran pada tungku yang belum sepenuhnya padam setelah digunakan untuk memasak.
Beruntung, kebakaran tersebut cepat diketahui sehingga petugas dapat segera melakukan penanganan dan mencegah api meluas.
Namun, belum berselang lama setelah insiden pertama ditangani, kebakaran kembali terjadi. Kali ini, objek yang terbakar merupakan sebuah gudang pertanian di Desa Bogares Kidul RT 09/RW 02, Kecamatan Pangkah.
Petugas Damkar Pos Slawi langsung dikerahkan ke lokasi dan tiba sekitar 15 menit setelah menerima laporan.
Setibanya di lokasi, petugas segera melakukan pemadaman dan pengendalian agar kobaran api tidak merembet ke bangunan maupun area di sekitarnya. Api kemudian berhasil dikendalikan sepenuhnya setelah petugas berjibaku melakukan penanganan.
Dua kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas pembakaran, sekecil apa pun, tetap memiliki risiko besar apabila ditinggalkan tanpa memastikan api benar-benar padam.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika menggunakan tungku, membakar sampah, maupun melakukan aktivitas lain yang melibatkan api. Bara yang terlihat sudah mati sekalipun masih berpotensi menyimpan panas dan kembali memicu kebakaran.
Di tengah musim kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mencegah kejadian serupa kembali terulang.



