Di tengah laju modernisasi yang kian masif dan dampaknya terhadap krisis iklim global, seruan untuk merawat bumi tidak lagi sekadar menjadi slogan moral, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial. Pembangunan infrastruktur dan ekspansi kawasan industri sering kali mengorbankan ruang-ruang hijau yang menjadi paru-paru kehidupan. Dalam situasi yang serba mengkhawatirkan ini, setiap tindakan nyata untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem menjadi begitu berharga.
Gambar 1. Dekan
Fakultas Pertanian Ketua Yayasan UWKS dan Para Wakil Rektor
Perjalanan ini merupakan langkah konkret yang dilakukan oleh Dr. Markus
Patiung Sebagai Dekan Fakultas Pertanian dan sebagai ketua panitian Dies
Natalis UWKS yang ke-45. Hal ini menyiratkan sarat makna bahwa perwujudtan yang
dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS)
kepada negeri. Dalam rangka memperingati Dies Natalis UWKS yang ke-45, civitas
akademika tidak hanya merayakannya dengan seremoni atau kemeriahan fisik
semata, melainkan memilih untuk kembali ke akar: menyatu dengan tanah dan
merawat kehidupan melalui aksi penanaman pohon di Kebun Percobaan Sidoarjo.
Aksi ini menawarkan potret humanis yang mendalam. Di atas tanah lahan
percobaan, terlihat bagaimana batas-batas hierarki akademik mencair. Para
pimpinan universitas, dosen senior bersahaja dengan jas almamater dan batik
khasnya, turun langsung berlutut di tanah bersama para mahasiswa. Tangan-tangan
yang biasanya memegang pena, mengetik jurnal, atau menyampaikan kuliah di
ruang-ruang kelas ber-AC, kini memegang sekop dan menyentuh tanah basah secara
langsung. Bibit-bibit pohon pilihan—seperti tanaman buah
mangga—ditanam penuh kehati-hatian di dalam wadah pot beton yang telah
disiapkan.
Pemandangan ini menegaskan bahwa kerja pelestarian lingkungan adalah
tanggung jawab kolektif lintas generasi. Civitas akademika UWKS tidak hanya
mengajarkan teori konservasi dari balik mimbar akademik, tetapi mencontohkannya
melalui tindakan nyata (leading by example).
Dipilihnya Kebun Percobaan Sidoarjo sebagai lokasi penanaman memiliki nilai
strategis sekaligus simbolis yang kuat. Sidoarjo, sebagai salah satu kawasan
yang berkembang pesat di Jawa Timur, menghadapi tantangan penyempitan lahan
hijau akibat pemukiman dan industri. Di tengah kepungan dinding beton dan
dinamika perkotaan, lahan percobaan ini bertransformasi dari sekadar sarana
riset teknis menjadi sebuah oase ekologis. Setiap bibit yang ditanam di tempat
ini adalah investasi jangka panjang: calon penghasil oksigen, penyerap karbon,
pemelihara kesuburan tanah, dan penjaga ketersediaan air tanah di masa depan.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini mencerminkan pengejawantahan sejati dari Tri
Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan dan penelitian pertanian tidak boleh
berhenti pada lembaran kertas karya ilmiah, tetapi harus berdampak langsung
pada pemulihan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Namun, nilai terbesar dari aksi ini terletak pada pesan moral yang
dibawanya. Penanaman pohon ini diharapkan tidak menjadi sekadar agenda tahunan
yang selesai saat bibit tertanam dan kamera dimatikan. Aksi ini harus menjadi
percikan api yang menyalakan kesadaran lingkungan yang lebih luas. Semoga
momentum Dies Natalis ke-45 UWKS ini menjadi titik balik yang sesungguhnya
bagi kelestarian alam kita.
Titik balik berarti
terjadinya pergeseran paradigma (paradigm shift) dalam mengelola
lingkungan:
1. Perubahan
Etika Lingkungan dengan mengubah cara pandang manusia dari yang semula
menganggap alam sebagai objek eksploitasi, menjadi mitra kehidupan yang harus
dijaga dan dihormati.
2. Keberlanjutan
Perawatan, dengan harapan keberhasilan untuk penanaman tidak diukur dari
berapa banyak bibit yang ditancapkan ke tanah, melainkan berapa banyak pohon
yang tumbuh subur hingga bertahun-tahun mendatang melalui perawatan yang
konsisten.
3. Inspirasi
Gerakan Kolektif dilakukan untuk mendorong
komunitas lain, baik institusi pendidikan, swasta, maupun masyarakat umum,
untuk mengambil peran serupa di lingkungannya masing-masing.
Menanam sebuah pohon adalah salah satu bentuk tindakan paling optimistis
yang bisa dilakukan manusia. Saat kita menanam pohon, kita sedang menanam
harapan untuk masa depan yang mungkin tidak sepenuhnya kita nikmati sendiri,
melainkan untuk dirasakan oleh generasi mendatang.
Langkah yang diambil oleh Fakultas Pertanian Universitas
Wijaya Kusuma Surabaya di Sidoarjo adalah pengingat jujur bagi kita semua:
bahwa bumi tidak butuh retorika, bumi butuh aksi nyata. Selamat Dies Natalis
ke-45 Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Dari tanah Sidoarjo, mari kita kawal
momentum ini agar harapan akan alam yang lestari, hijau, dan damai dapat terus
mengakar dan bertumbuh melintasi zaman.



