Kayuagung,Raimas86.Net –
Tim Peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI)
Bandung pada hari Rabu tanggal 17 Juni 2026 melakukan audiensi di Rumah
Dinas Wakil Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Bapak Supriyanto, S.H. dalam rangka
memperkuat kolaborasi pentahelix dan membangun sinergi lintas ilmu serta lintas
perguruan tinggi. Tim ISBI Bandung dipimpin
langsung oleh Prof. Dr. Sri Rustiyanti, seorang Dosen dan Peneliti yang
mendapatkan Hibah Kemdiktisaintek Skema Fundamental Tahun Kedua 2026. Beliau
didampingi oleh Dr. Wanda Listiani, M. Ds. (ISBI Bandung), M.Ds, Anrilia
E.M Ningdyah, S.Psi., M. Ed., Ph.D., Psikolog (Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya), dan Dr.
Anita Restu Puji Raharjeng, M. Si., M.BioMed.Sc. (UIN Raden Patah Palembang).
Audiensi ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan akan segera dibuka Program Studi Pencak Silat Fakultas
Seni Pertunjukan di ISBI Bandung.
Audiensi tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati OKI,
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKI, Perwakilan Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata, Iskandar Fuad (Sekretaris Umum KONI OKI), Agus Masnanto, S.P.,M.P.
(Ketua Umum IPSI OKI), Asep Mulyono (Sekretaris Umum IPSI OKI), Effran
Kurniawan (Ketua Pembinaan Prestasi sekaligus pelatih nasional IPSI OKI), Efri
Setiawan (Atlet IPSI OKI), M. Redho Romli Argo, S.Pd. (Pelatih provinsi dari
IPSI OKI). Turut hadir pula mitra akademik dari Fakultas Sains dan Teknologi,
Program Studi Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang,
yang selama ini terlibat dalam pengembangan penelitian berbasis sumber daya
hayati lokal dari daun duku.
Ketua Tim Peneliti ISBI Bandung, Prof. Dr. Sri Rustiyanti, menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek gerak dan teknik pencak silat, tetapi juga pada nilai-nilai budaya, filosofi, pendidikan karakter, serta ketangguhan mental atlet yang berkembang dalam tradisi pencak silat di masyarakat. Menurutnya, pencak silat merupakan warisan budaya yang perlu terus didokumentasikan, dikaji, dan dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Penelitian ISBI Bandung selama beberapa tahun terakhir juga menempatkan pencak silat sebagai objek kajian penting dalam pelestarian budaya dan pengembangan pendidikan tinggi seni.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati OKI
menyampaikan apresiasi atas kunjungan tim peneliti ISBI Bandung yang telah
memilih Kabupaten OKI sebagai salah satu lokasi penelitian. Bapak Supriyanto berharap hasil penelitian tersebut dapat
memberikan kontribusi bagi pengembangan pencak silat daerah, baik sebagai
warisan budaya maupun sebagai cabang olahraga yang mampu mencetak atlet
berprestasi di tingkat regional, nasional, hingga internasional.
Diskusi berlangsung hangat dengan
berbagai masukan dari pengurus IPSI, KONI, pelatih, dan atlet. Berbagai
persoalan yang dihadapi dalam pembinaan pencak silat turut dibahas, mulai dari
regenerasi atlet, penguatan organisasi, pelestarian jurus-jurus tradisional,
hingga dukungan terhadap pembinaan prestasi. Para atlet juga berkesempatan
menyampaikan pengalaman mereka dalam mengikuti berbagai kejuaraan serta harapan
terhadap peningkatan fasilitas dan pembinaan yang berkelanjutan. Wawancara ini
dipimpin langsung oleh psikolog Anrilia E.M Ningdyah, S.Psi., M. Ed., Ph.D.
Wakil Bupati OKI menekankan bahwa baik pencak
silat maupun inovasi skincare daun duku memiliki kesamaan, yaitu sama-sama
berangkat dari kekayaan lokal yang perlu dikembangkan melalui kolaborasi
berbagai pihak. Oleh karena itu, konsep Pentahelix
menjadi benang merah dalam seluruh diskusi. Akademisi berperan dalam
penelitian dan inovasi, pemerintah mendukung melalui kebijakan dan fasilitasi,
komunitas menjadi pelaku dan penjaga tradisi, dunia usaha berperan dalam
hilirisasi produk dan pengembangan ekonomi, sementara media berfungsi
memperluas publikasi dan edukasi kepada masyarakat.
Dr. Wanda menjelaskan bahwa tantangan pembangunan
saat ini menuntut hadirnya kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menghasilkan
inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, perguruan
tinggi seni dan budaya tidak hanya berperan dalam pengembangan seni dan tradisi,
tetapi juga dapat berkolaborasi dengan bidang ilmu lain untuk menciptakan
produk inovatif berbasis kearifan lokal, seperti skincare daun duku. Salah satu bentuk kolaborasi yang menjadi fokus pembahasan
dalam audiensi tersebut adalah pengembangan produk skincare berbahan dasar daun duku, tanaman khas
yang banyak tumbuh di wilayah Sumatera Selatan, termasuk Kabupaten Ogan
Komering Ilir. Penelitian ini merupakan hasil sinergi antara ISBI Bandung dan
Fakultas Biologi UIN Raden Fatah Palembang yang memadukan pendekatan biokultur,
pengetahuan lokal masyarakat, serta kajian ilmiah di bidang biologi dan
kesehatan.
Menurut Dr. Anita daun duku yang selama ini belum
dimanfaatkan secara optimal memiliki potensi kandungan bioaktif yang dapat
dikembangkan menjadi bahan baku produk perawatan kulit. Melalui penelitian
lintas disiplin, potensi tersebut dikaji secara ilmiah sekaligus dikaitkan
dengan pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman lokal.
Hasil penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan produk inovatif, tetapi
juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal, imbuh Dr.
Wanda.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati OKI
menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaborasi yang melibatkan berbagai
institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah. Menurutnya, model kerja sama
seperti ini merupakan implementasi nyata konsep Pentahelix, di mana akademisi, pemerintah, masyarakat,
dunia usaha, dan media bekerja bersama dalam menciptakan inovasi yang berdampak
pada kesejahteraan masyarakat. “Potensi lokal yang dimiliki Kabupaten OKI harus
mampu diolah menjadi produk unggulan yang memiliki nilai tambah. Kolaborasi
antara ISBI Bandung dan UIN Raden Fatah menunjukkan bahwa riset tidak boleh
berjalan sendiri, tetapi harus terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan
pembangunan daerah”, ujarnya.
Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan
jejaring penelitian lintas perguruan tinggi sebagai bagian dari implementasi
program Kampus Berdampak.
Kolaborasi antara bidang seni budaya dan biologi dinilai menjadi contoh praktik
baik dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan untuk menghasilkan inovasi yang
tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga memperhatikan aspek budaya,
identitas lokal, dan keberlanjutan lingkungan.
Melalui audiensi ini, para pihak sepakat untuk
terus memperkuat kerja sama riset, pengabdian kepada masyarakat, serta
hilirisasi hasil penelitian agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Kegiatan audiensi ditutup dengan komitmen bersama untuk membangun ekosistem
kolaborasi pentahelix yang berkelanjutan, sehingga hasil-hasil penelitian dari
perguruan tinggi dapat menjadi solusi nyata bagi masyarakat serta mendukung
pembangunan daerah yang berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan kearifan lokal. (Krt)





